Berita

Berita dan Informasi Kepesantrenan

(0 pemilihan)
Tausiyah Al Habib Jindan bin Novel Pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1439 H di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Tangerang Tausiyah Al Habib Jindan bin Novel Pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1439 H di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Tangerang

"Ilmu dan Cahaya" Tausiyah Al Habib Jindan bin Novel Pilihan

kabir al-fadly Maret 06, 2018
Ilmu adalah Cahaya 
 
"Baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang jelas-jelas merupakan seorang yang paling paham tentang segala macam ilmu masih menyibukkan diri Beliau dengan belajar dan belajar. Tiada harinya kecuali dihabiskan untuk belajar serta mengajar. Bahkan senantiasa berdo'a kepada Allah Ta'ala untuk ditambahkan ilmunya. Dan diberikan derajat ilmu dan Keberkahan ilmu". 
 
Demikian disampaikan Al Habib Jindan Bin Novel dalam Mauidzotul Khasanahnya yang disampaikan dalam Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Tangerang malam Ahad lalu (03/3). 
 
Beliau banyak menyampaikan tentang Fadhilah dan keutamaan-keutamaan menuntut ilmu, ilmu dan para ahli ilmu. Dengan gamblang beliau menjelaskan begitu tawadhu dan hausnya para Nabi dengan ilmu. Seperti yang dikisahkan oleh beliau tentang perjalanan Nabi Musa yang notabane nya seorang Nabi Meluaskan hatinya untuk menuntut ilmu kepada Nabi Khidir.
 
Pengasuh Yayasan Al-Fachriyah, Ciledug, Kota Tangerang ini juga berpesan kepada seluruh santri dan jamaah. Ilmu adalah anugerah dan nikmat yang besar yang Allah Ta'ala karuniakan kepada hamba-hambanya yang terpilih. Ilmu bukan sekedar teori, pemahaman dan sekedar Catatan-catatan. Namun hakikatnya adalah cahaya yang Allah titipkan di dada para HambaNya yang terpilih. Cahaya ilmu tersebut tidak hanya teori saja namun juga harus tembus paling tidak dalam amal , sikap dan praktek Sehari-hari yang merupakan buah dari ilmu itu sendiri. 
 
Beliau melanjutkan. Ilmu juga merupakan sesuatu yang diperoleh dengan belajar dan perjuangan yang giat dalam ikhtiar mencari ilmu tersebut.  Kehidupan keilmuan seseorang harus mencakup aspek akhlak dan adab karena dengan hal tersebut ilmu yang dimiliki akan membawa kemaslahatan untuk banyak orang. Jangan sampai seseorang yang memiliki ilmu banyak namun mudah terpancing dan terprovokasi akibat suatu isu tertentu. 
Beliau Menggambarkan, dengan memberikan analogi dua orang besar yang sedang menguji santri-santrinya antara santri yang dibekali dengan akhlak dan ilmu dengan santri hanya digembleng soal keilmuan saja., contoh hasilnya kan beda dan santri yang dibekali dengan akhlak akan jauh lebih bersifat toleran kepada orang-orang baik didalam maupun di luar. 
 
Pada akhirnya Beliau juga berpesan kepada seluruh Santri agar senantiasa mengistiqomahkan belajar dan ibadah ibadah lainnya dalam rangka menyiapkan diri semaksimal mungkin sebelum betul-betul terjun di masyarakat. Belum mengisyaratkan dengan mengisahkan pesan Imam Haddad yang menyatakan belum disebut santri siapa santri yang belum hafal Alfiyah dan Zubad. Nggak berpesan kepada seluruh santri agar senantiasa Istiqomah dan Teguh terhadap ilmu serta menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu kepada para ahli ilmu dalam hal ini para ulama, guru dan kyai
Baca 1162 kali Terakhir diubah pada Rabu, 13 Februari 2019 14:44

Cari

Pengunjung

361563
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
4564
287384
34376
361563

Your IP: 54.145.38.157
2019-06-24 15:48