Berita

Berita dan Informasi Kepesantrenan

(0 votes)

Isra' Mi'raj dan cermin sholat kita Featured

Kabir Al-Fadly April 14, 2018
Isro Mi'roj dan Cermin Sholat Kita
27 Rojab, Umat Islam mengenalnya selain karena bulannya yang termasuk bulan Harom adalah karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai Isro Mi'roj Baginda Nabi Besar Muhammad Sholallahu Alaihi Wa Sallam. Yakni sebuah perjalanan irasional yang hanya mampu diterima oleh Iman, sebab akal pikiran tak mampu menembus perkara tersebut. Bagaimana tidak? Bahwasanya Rosululloh 'diperjalankan' oleh Allah Ta'ala hanya dalam satu malam bahkan sepertiganya, dari Masjid Al-Harom di Mekkah menuju Masjid Al-Aqso di Yerussalem dan mampir di beberapa tempat-tempat mulia seperti Yastrib, Tursina dan Baitullahm atau yang terkenal dengan Bethlehem. Setelah sampai di Masjid Al-Aqso dan bersilaturahim dengan seluruh Nabi dan Rosul beliau melanjutkan perjalanan ke Sodrotul Muntaha atau langit ke tujuh. Pada tujuan akhir tersebut Rosululloh langsung bertemu dengan Sang Pencipta, Allah Ta'ala, bertatap langsung secara Ruuhiyan dan Jasadiyan. Serta menerima perintah untuk melaksanakan Sholat lima waktu, yang pada awal perintahnya berbilang 50 waktu. 
Perintah Sholat tersebutlah yang seolah menjadi oleh-oleh khusus dan gagasan utama dari di-Isro dan di-Mi'rojkan Baginda Nabi Besar Muhammad. Jika ibadah yang lain cukup diperintahkan dengan turunnya Ayat-ayat sebagai Legal Standing suatu ibadah itu untuk dijalankan. Maka, spesial untuk Sholat, Allah Ta'ala tidak hanya menurunkan Ayat-ayatnya sebagai perintah, namun langsung memanggil kekasihNya untuk bertemu dan memberikan perintah tersebut kepada Beliau. Tentu jika dianalogikan seorang pimpinan ketika memberikan perintah lewat surat atau perantara dengan perintah yang diberikan dengan memanggil stafnya langsung memiliki kadar urgensi yang begitu tinggi, sederhananya begitu penting perintah tersebut sampai-sampai staf tersebut harus datang ke ruang pimpinannya. Begitupun Kanjeng Nabi, betapa tinggi urgensi Sholat dibandingkan Ibadah yang lain hingga beliau harus datang sendiri untuk menjemput perintah tersebut. 
Sholat memang begitu penting dan asasi dalam interaksi hubungan vertikal  dengan Allah Ta'ala juga horizontal dengan sesama. Dikatakan ada hubungan dengan sesama adalah ketika seseorang melakukan Ibadah Sholat Berjama'ah maka secara otomatis juga dia akan berinteraksi dengan tetangga dan saudara di sekitar Masjid. Sholatlah yang mampu mempertemukan satu dengan yang lain dan sholatlah yang mampu menjadi ajang silaturahim antar satu muslim dengan muslim yang lain. Diantara urgensi yang lain tentang keutamaan sholat tentu sedikit banyak sudah kita ketahui dari kitab, kajian dan berbagai macam bacaan serta ceramah. Diantaranya Sholat sebagai tiang agama, sholat sebagai kepalanya Ibadah dan amalan yang akan pertama kali menjadi hitungan Allah Ta'ala di hari perhitungan adalah Sholat. Sebanyak apapun ibadah yang kita kerjakan namun luput dari membawa catatan sholat maka Ibadah tersebut akan menjadi sia-sia belaka. 
Maka melalui momentum 'hari ulang tahun Sholat ini' hendaknya Kita merefleksi dalam diri kita sedalam-dalamnya. Sudahkah Sholat tersebut menjadi sesuatu yang paling penting dalam hidup kita, sama seperti pentingnya proses pemberian perintah tersebut hingga Rosul sendiri harus datang menemui Allah Ta'ala. Sudahkah kita meluangkan sekitar 25 menit sehari semalam untuk melakukan Sholat lima waktu yang jika satu waktunya saja hanya menyita sekitar lima menit waktu kita. Bandingkan betapa jauhnya perbandingan tersebut dengan waktu kerja kita mengejar dunia yang mungkin delapan jam sehari, waktu istirahat kita yang mungkin enam jam sehari atau bahkan waktu ke kamar mandi kita yang bisa berjam-jam sehari. Allah Ta'ala hanya menuntut kita menyerahkan waktu kita secara total untuk menghadapnya 25 menit sehari semalam, dan ternyata mungkin kita masih banyak lalainya dari 25 menit tersebut. 
Hendaklah mulai hari ini, kita dapat menitikberatkan amalan ini dalam-dalam di hati dan kesungguhan kita. Hingga sholat tersebut dapat berbuah menjadi sebuah ritual yang teramat nikmat dalam hidup kita. Saat dimana kita mampu menyerahkan seluruh diri ini yang begitu kecil di hadapan Sang Maha Besar. Saat dimana kita mampu pula mencurahkan segala persoalan kita dalam sujud-sujud panjang Sholat kita. Sehingga bisikan tersebut akan mampu terdengar hingga 'Arsyil 'Adzhim. Kemudian buah yang lain akan tumbuh sebagai kesholehan sosial yang menjadi cerminan sudah dalamkah Sholat Kita menembus area hati, lisan dan amal. 
Semoga Alloh Ta'ala Senantiasa mengistiqomahkan kita salam rangka beribadah secara total kepada-Nya.
Read 1536 times Last modified on Wednesday, 13 February 2019 14:41

Cari

Pengunjung

2464565
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
337
2442771
86993
2464565

Your IP: 3.239.242.55
2021-01-21 02:24

Instagram