Berita

Berita dan Informasi Kepesantrenan

(0 votes)
Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. - Mudhirul Am Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. - Mudhirul Am Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Media Of Asshiddiiqiyah 2

Kepahlawanan Pesantren Featured

Kabir Al-Fadly November 13, 2018

Belanda kembali datang ke bumi Pertiwi kali ini dengan boncengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) atau sekutu. Ribuan pasukan mendarat di utara Surabaya membawa misi terselubung kembali menguasai Indonisia yang baru beberapa bulan merasakan udara kemerdekaan. Ketidakkonsistenan Sekutu dengan tujuan awalnya datang ke Surabaya membuat Arek-arek Suroboyo marah, hingga terjadi pertempuran empat hari di Surabaya yang juga menewaskan salah satu pimpinan mereka Jendral A.W.S Mallaby.

Kematian Mallaby membuat sekutu jengkel hingga mengeluarkan ultimatum, jika pada 10 November 1945 pukul 06.00 pagi rakyat Surabaya tidak menyerah dan memberikan seluruh senjatanya pada Sekutu. Maka, dipastikan pada saat itu Surabaya akan menjadi medan perang kota dan dibombardir dari darat laut dan udara. ltimatum yang dikeluarkan Sekutu untuk masyarakat Surabaya sedikitpun tidak dihiraukan, justru disambut dengan gegap gempita perlawanan di sana-sini dari masyarakat Surabaya. Perlawanan itulah yang dicatat baik sebagai perjuangan paling kentara bangsa Indonesia dalam mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaannya, dan diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Tahun ini, sudah 73 kali kita rayakan semangat kepahlawanan tersebut. Ada satu hal dari rangkaian sejarah yang  nampaknya kabur dan samar serta luput di ceritakan di buku-buku sejarah anak-anak kita termasuk kita. Namun emas tetaplah emas, bagaimanapun ia disembunyikan kilaunya suatu hari akan tampak dan mengindahkan. Adalah Resolusi Jihad Nahdhatul Ulama yang rilis pada 22 Oktober 1945 menyusul permintaan Bung Karno pada Hadratos Syaikh KH. Hasyim Asy’ari seolah meminta fatwa untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Menindaklanjuti hal demikian 21-22 Oktober 1945 digelarlah rapat akbar di Surabaya dengan delegasi NU se-Jawa dan Madura dalam merumuskan fakta integritas tersebut. Maka pada hari itu, lahirlah Resolusi Jihad NU yang salah berisi kefardhuainan Umat Islam khususnya NU untuk mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin kembali berkuasa. Perintah ini disikapi heroik dan dinilai sebagai salah satu bentuk jihad fi sabilillah siapapun yang ikut di dalamnya dan jika mati dalam perjuangan ini maka akan termasuk orang-orang yang syahid di jalan Allah ta’ala

Bung Tomo menerima berita tersebut lantas datang sowan menemui Kiai Hasyim meminta izin untuk menggelorakan semangat Resolusi Jihad ini. Begitu juga seluruh masyarakat Surabaya menyiapakan segala kemampuan berlomba-lomba memenuhi seruan jihad ini. Resolusi Jihad inilah yang sesungguhnya menjadi cikal bakal spirit perlawanan masyarakat Surabaya pada 10 November dan hari-hari setelahnya. Sederhananya, tidak mungkin lahir semangat juang 10 November kalau tidak lahir semangat Resolusi Jihad 22 Oktober. Namun, sungguh catatan-catatan sejarah sedikit sekali membahas hal demikian.

Para santri, kyai dan masyarakat pesantren tentu berada paling depan menyikapi Resolusi Jihad tersebut. Selain jihad fii sabilillah pergerakan tersebut merupakan salah satu wujud sami’naa wa ato’na kepada Hadrotus Syaikh

Selain peristiwa 10 November dan rangkaiannya, perjuangan pesantren, santri dan kiai sudah banyak catatan perjuangan pesantren yang sangat brilianuntuk bangsa ini. KH. Hasyim Asy’ari yang begitu heroik sebagai sosok kiai yang nasionalismenya sudah terejawantahkan dalam semangat perjuangan. Beliau tidak hanya memimpin pesantren sebagai kyai dan melaksanakan transfer of knowledge pada santri-santrinya. Namun lebih dari itu, perjuangan beliau dalam perebutan kemerdekaan tembus ke keseharian beliau dan menjadi nafas sehari-hari beliau bahkan bersama sama KH. Wahab Hasbullah mengenalkan Hubbul Wathon Minal Iman, Cinta Tanah Air adalah Bagian dari Iman.

Sebuah pepatah yang pelaksanaanya masih relevan dan akan terus relevan baik kini hingga nanti. Di tengah berbagai ancaman dari luar maupun dalam terhadap keutuhan republik ini. Term tersebut dapat menjadi pegangan ampuh dalam mengikis ancaman-ancaman tersebut. Bagi Kiai Wahab pepatah itu bukan ucapan lisan saja, beliau sudah membuktikan lewat perannya sebagai Panglima Laskar Hizbullah yaitu barisan perjuangan santri, dan masyarakat yang sukarela berjuang.

Seorang penulis Sayyid Asad Shihab menulis sebuah buku tentang biografi KH. Hasyim Asy’ari berjudul Allamah Muhammad Hasyim Asyari Wadhiu Libinati Istiqlali Indonesia. Sebuah buku berisi perjalanan Kiai Hasyim yang juga menyebut bahwa Kiai Hasyim sebagai peletak dasar kemerdekaan Indonesia. Sebuah pendapat yang sangat mengesankan dan memang teruji dengan kapasitas Kyai Hasyim sebagai pencetus kemerdekaan negeri ini baik secara dzohir maupun batin.

Sosok lain bertaburan seperti KH. Zainal Mustofa di Tasikmalaya yang memberontak terhadap Jepang akibat pemaksaan hak sumber daya dan mengikuti upacara Seikerei atau penghormatan pada kaisar ke arah Tokyo dengan membungkukan badan. Di sekitar Jakarta ada KH. Noer Ali  yang memimpin pertempuran melawan Belanda dan kiai lainnya seperti KH. Zainul Arifin dan Pangeran Diponegoro. Belum lagi tokoh-tokoh pesantren yang berjuang di meja perundingan dan diplomasi seperti putra Kiai Hasyim yakni KH Wahid Hasyim atau sosok KH. Syam’un yang baru saja dianugrahi gelar pahlawan nasional tahun ini.

Belajar dari beliau-beliau yang begitu tinggi semangat juangnya rasanya tidak ada waktu bersantai bagi santri dan kaum pesantren kini. Perjuangan tersebut harus dilanjutkan tanpa terkecuali seraya mensyukuri udara kemerdekaan yang begitu syahdunya kita hirup saat ini. Sosok pahlawan tidak asing lagi di pesantren. Mereka adalah kiai dan santri itu sendiri yang sampai kapanpun tidak hilang kepahlawanananya sebab sampai saat ini rela berjuang untuk menanamkan nilai-nilai luhur terutama agama dan nasionalisme. Negeri ini banyak berutang pada pesantren yang tidak ada habisnya memproduksi generasi spiritualis dan nasionalis sebagai penyangga negeri ini.

Bagi santri kini, berluaslah dalam berkiprah, teruslah menebar kebaikan. Sholih saja tidak cukup sebagai santri, Mushlihlah sikap yang harus dimiliki oleh santri. Baik, namun kebaikannya juga bisa dirasakan oleh orang lain. Berjuanglah  dalam posisi apapun serta di manapun di pelosok tanah air bahkan dunia. Sebab nilai yang tidak pernah terlupa dari pesantren yaitu sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain. Santri di manapun keberadaannya harus menjadi air yang membawa banyak keberkahan bukan justru peniup bara api konflik dan perseteruan antar kelompok. Santri bukanlah dia yang bersarung dan kopiah saja namun lebih dari itu, santri kini harus mampu bereksis di berbagai lini kehidupan dan lintas keadaan.

Terakhir uacapan kepada pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi yang telah melegitimasi 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Sebuah pengakuan dan wujud terimakasih dari negara dan masyarakat akan nyatanya peran pesantren dan santri bagi republik ini. Ke depan hendaknya tidak ada lagi masyarakat yangmemandang santri dengan  kesan kumuh, sarunga, intoleran, tak beralas kaki dan sentiment negatif lainnya. Harusnya dengan catatan emas perjuangannya untuk republik ini sikap heroik santri patut kita apresiasi

 Pada akhirnya tantangan akan kembali menguji tiap langkah masyarakat pesantren, santri terutama. Agar kebaikan-kebaikan yang selama ini sudah ditanam para pendahulu tetap lestari dan tak hilang sampai kapanpun juga.

Terimakasih santri, terimakasih pesantren, terimakasih kyai, terimakasih seluruh pahlawan, karena darahnyalah. Hari ini kita masih dapat menghirup segarnya udara kemerdekaan, kokohnya tanah pertiwi dan sejuknya air negeri ini.

Read 1683 times Last modified on Wednesday, 13 February 2019 14:40

Cari

Pengunjung

2456330
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
2848
2442771
86993
2456330

Your IP: 3.239.242.55
2021-01-18 11:10

Instagram