Berita

Berita dan Informasi Kepesantrenan

(0 votes)

Ayat-ayat Perdamaian dalam Pagar Pesantren Penulis : Kabir Al-Fadly Habibullah Featured

Kabir Al-Fadly Habibullah June 03, 2022

Berangkat dari Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, sebagai mana merunut ke catatan sejarah, taggal 22 Oktober diambil dari sebuah kejadian mahadahsyat yang menjadi pemantik terjadinya peristiwa 10 November 1945. Dibawah pimpinan Hadrotussyaikh Romo KH. Hasyim Asy’ari ribuan santri menyatakan Resolusi Jihad, dan “turun gunung” angkat senjata dalam melawan tentara NICA, ribuan santri syahid dalam Resolusi Jihad 22 Oktober itu.

Kemudian, yang perlu digaris bawahi dalam kejadian tersebut adalah inisiatif dari seorang Kiai Tebu Ireng ini dalam memfatwakan jihad kepada santri-santrinya yang secara struktural sedang melaksnakan pendidikan keagaman di pesantren. Apa sesungguhnya yang ada di benak Kyai Hasyim sehingga dengan gagah perkasanya melaksanakan bukan sekedar jihad keilmuwan namun juga jihad sesungguhnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kiai Hasyim mengajarkan kepada kita bukan saja semangat beragama, namun juga semangat berbangsa dan bernegara. Di pundak kitalah para santri terpikul tanggung jawab besar sebagai penjaga dan pewaris kemerdekaan dan kedamaian masyarakat.  Mau tidak mau, siap tidak siap kapanpun negara memanggil lahir batin kita harus siap membelanya. Semangat yang ditularkan Kiai Hasyim sungguh luar biasa, bukan hanya semangat se-agama dan sekedar persaudaraan se-agama, Ukhwah Islamiyah. Namun lebih dari itu perdamaian tidak akan tercapai bagi kita sebuah bangsa jika kita sebagai ummat beragama mementingkan urusan-urusan internal agama masing-masing tanpa memperhatikan kehidupan sosial kita sebagai bangsa Indonesia yang sangat majemuk agama, suku dan rasnya. Maka persaudaraan Islam saja tidak cukup untuk menjaga perdamaian tersebut. Namun harus terpatri dalam dada kita semangat dan Persaudaraan se-Bangsa se-Tanah Air, Ukhwah Watoniyah.  Apapun agama kita, apapun suku kita, di daerah manapun kita tinggal, pulau manapun yang kita tempati, budaya apapun yang kita banggakan, tidak membuat kita berpecah karena kita memiliki prinsip se-Bangsa se-Tanah Air. Berjuang bersama dalam mengusir penjajah, susah bersama dalam kehidupan pra-kemerdekaan dan sejarah yang sama, tentu membuat kita bersatu yang pada akhirnya melahirkan kedamaian dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara, apapun gesekan-gesekan yang terjadi di dalamnya.

Indonesia boleh jadi harus banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala, negara-negara di Timur Tengah yang penduduknya mayoritas bahkan beberapa negara berpenduduk Muslim 100%, namun, kehidupan mereka sangat jauh dari kata perdamaian. Antar saudara saling perang, antar suku terjadi perang saudara, rakyat tidak pernah sejalan dengan pemerintah, berkali-kali pemerintahan harus digulingkan, bahkan antar negara sangat mudah diadu domba pihak asing, politik tidak pernah stabil, tidak ada ketenangan dan kedamaian. Sehari-hari yang terjadi adalah perang dan permusuhan. Padahal sekali lagi, sebagian besar bahkan semua dari meraka adalah muslim. Apa yang sesungguhnya terjadi.

Ulama-ulama Nahdhiyin berpandangan bahwa sekalipun mayoritas diantara mereka muslim bahkan seratus persen muslim. Tidak ada sebuah kesadaran yang menyatukan, yakni kesadaran sepenanggungan sebagai sebuah bangsa dan negara. Semua bicara atas nama agama, ras, suku dan kabilahnya masing-masing. Mereka lupa padahal ada satu garis yang menyatukan dan membuat mereka sama. Yakni persaudaraan dan nasib terlahir sebagai sebuah negara. Selain persaudaran dan kecintaan terhadap agama.

Bahkan, Kiai Hasyim Asy’ari sampai menyatakan, Hubbul Wathon minal Iman. Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Slogan ini terbukti ampuh merekatkan sekat-sekat primordialisme, etnosentrisme dan perbedaan diantara kita semua sebagai negara majemuk dan multi-kultur. Slogan ini mampu membawa semangat dan pesan perdamaian yang terus mengilhami tiap ruh dan sendi kehidupan bagi kita dalam rangka melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecintaan kita terhadap negara akan  membuat kita mudah menjadi orang yang tenggang rasa terhadap perbedaan, melihat kebaikan dari setiap perbedaan tersebut. Boleh lah kita lain agama dan suku, namun kecintaan kita semua terhadap negara ini, mampu menyatukan kita semua dalam kedamaian. Sehingga tak mudah tersundut api adu domba dan gesekan perpecahan. Melahirkan sikap tasammuh, toleransi dalam menghargai yang selain kita. Minoritas menghargai mayoritas dan mayoritas menjaga minoritas.

Semangat ini yang terus dibawa dan dilestarikan oleh pesantren-pesantren di Indonesia secara meluas dan berkesinambungan. Kita memahami bersama semakin  beragamnya keadaan sosial kita sebagai bangsa tentu risiko konflik pun semakin besar. Santri-santri dan segenap elemen pesantren harus mampu berdiri di garda terdepan dalam menjaga keutuhan serta kedamaian kita sebagai masyarakat yang bermacam-macam latar belakangnya.

Pesantren yang merupakan benteng terakhir ummat Islam hadir sebagai jawaban ummat, juga sebagai pengawalnya. Kitalah yang membawa pesan-pesan damai itu ke seluruh elemen masyarakat. Karena pada dasarnya Islam berarti kedamaian, bukan sekedar arti kata belaka. Namun bagaimana itu semua dapat menjadi stimulus terhadap kelanggengan perdamaian yang sudah ada ini sambil terus menebarkan perdamaian-perdamaian yang lainnya sebagai sesuatu hal yang sangat mengakar dalam agama kita.

Ratusan tahun pesantren berkiprah di tengah masyarakat dan terus melahirkan generasi-generasi moderat seperti yang diwasiatkan Kiai Hasyim. Moderat dalam arti cerdas bersikap sebagai pribadi yang beakhlak, berkarakter dan berkeilmuwan. Karena itulah yang diajarkan oleh pesantren dan menjadi pokok. Diharapkan dengan pendidikan karakter tersebut juga akhlak dan keilmuwan diharapkan santri-santri mampu terjun ke masyarakat dan menyatukan berbagai lapisan masyarakat tersebut sambil terus menaburi bumbu-bumbu perdamaian dan menyebarluaskannya ke elemen masyarakat yang lain.

Di pesantren kita diajarkan bagaimana kita seorang insan membina masyarakat yang sangat multideimensi tersebut. Pesantren adalah mini-Indonesia, walau di dalam pagar yang luasnya hanya beberapa ratus meter persegi , di dalamnya hadir dan mewakili berbagai suku, ras dan daerah hampir seluruh Indonesia. Di pesantren kita bertemu saudara kita dari ujung barat hingga timur Indonesia tentu dengan berbagai macam tabiat dan adat kebiasaannya. Jika tidak ada semangat perdamaian di dalamnya seperti yang senantiasa Kiai-kiai dan Guru-guru sampaikan. Tentu akan mudah terjadi gesekan antara si kulit hitam dan putih, antara si penduduk desa dan kota, antara si masyarakat pegunungan dan pesisir.

Tapi kita dapat memastikan bersama dan kita ketahui bersama. Kondisi beraneka ragam itu sulit sekali menggesek dan membakar kedamaian rekan satu kamar, satu angkatan dan satu organisasi di pesantren. Seolah sekat-sekat itu sudah habis dimakan oleh waktu dan kedewasaan para santri, yang senantiasa istiqomah mendengar petuah-petuah para Romo Kiai soal saling menghargai, saling toleransi dan saling menghormati. Dengan tujuan tiada lain goal nya adalah kebersamaan dan perdamaian diantara santri yang nantinya semangat ini mampu dibawa saat mereka semua sudah berada di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai contoh konkret dari kedewasaan berfikir masyarakat Islam kita, adalah peristiwa 4/11 kemarin. Tentulah kita ketahui dari ratusan ribu bahkan jutaan orang yang turun kejalan pada hari itu. Banyak diantara mereka yang merupaan bagian dari elemen pesantren. Baik para alumni maupun yang benar-benar masih menjadi santri di berbagai pondok pesantren. Pun para Kiai pimpinan pondok pesantren yang ikut serta pada hari itu. Bayangkan saja, dari pagi hingga sore terlepas dari latar belakang kumpulnya mereka. Sesuatu yang dapat kita garis bawahi adalah, jutaan orang yang lain latar belakangnya, beda sukunya, rasnya bahkan multi agama mampu berjalan bersama tanpa gesekan secara intern dari rombongan aksi tersebut.

Ini adalah bukti kedewasaan berbangsa dan beragama, jika ada satu masalah yang mengancam kedamaian nasional dan kemuliaan agama. Itu semua dapat dilawan dengan menunjukan sebuah pesan damai yang bermartabat lewat aksi yang mampu menghancurkan batas-batas perbedaan yang ada. Besar sekali rasanya kita sebagai bangsa yang beragama dan agama yang hidup berbangsa pada hari itu. Semangat inilah yang harusnya mampu dan terus kita jaga  dan pertahankan.

Pesantren bukan hanya lembaga sosial, kegamaan dan keilmuan. Namun pesantren adalah sebuah pabrik besar pencetak karakter dan generasi-generasi yang handal dalam soal menjaga perdamaian  dan menjadi agen perdamaian sesuai misi agama kita dan misi Kerosulan Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaih, yakni diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, Rahmatan lil Alamaiin.

Kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren terutama soal ajaran-ajaran tenggang rasa harus selalu dipelihara dan dijaga oleh kita semua. Siapapun kita, santri atau pun bukan santri. Kyai maupun bukan kyai demi kedamaian yang selalu kita impikan yang juga merupakan salah satu cita-cita kemerdekaan bangsa kita, menjaga Perdamaian Dunia.

Wallahu ‘Alam Bisshowaab

Bismillahirrrahmanirrahiim

Penulis bernama Kabir Al-Fadly Habibullah, mahasiswa semester 3 UIN Syahid Jakarta. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Tinggal di JL. MH. Thamrin No. 52 Tangerang. Pernah Mondok di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Tangerang, sampai sekarang masih berkegiatan sebagai pengajar disana. Lahir di Tangerang, 18 September 1997, umur 19 tahun. Selain kegiatan kuliah dan mengajar sehari-hari juga diisi dengan kegiatan dakwah dan majlis ta’lim. Baik ceramah, khutbah, MC, menulis Puisi, mengisi Majlis Ta’lim dan pelatihan Public Speaking. Aktif sebagai Wakil Ketua DKM Masjid Sholahuddin, Remaja Masjid Attaqwa dan Koordinator Departemen Dakwah Ikatan Alumni Asshiddiqiyah.

Read 1468 times Last modified on Friday, 16 February 2024 11:02

Cari

Pengunjung

12921589
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
1957
12787405
281656
12921589

Your IP: 3.239.76.25
2024-03-01 02:10

Instagram